Kisah Pertama Nia Ngekost di Semarang

Ilustrasi

Widia Words - Bagi sebagian orang, merantau untuk kuliah adalah pintu menuju kemandirian. Tapi bagi Nia, adik saya, perjalanan itu penuh dengan tangis, rindu rumah, hingga akhirnya belajar berdiri sendiri.

Hari itu, wajah Nia berseri-seri saat pengumuman resmi diterima di Universitas Diponegoro. Di balik senyumnya, ada satu kenyataan baru yang harus dihadapinya: merantau. Bagi gadis yang terbiasa dengan kenyamanan rumah dan keluarga, pindah ke kota lain adalah tantangan besar.

Kami sekeluarga pun berangkat ke Semarang, membawa koper dan semangat, sambil menyiapkan diri untuk mencari kos-kosan. Namun, mencari kos ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada yang lokasinya dekat kampus tapi fasilitasnya minim, ada pula yang nyaman tapi jauh dari jalan utama.

Ada momen lucu sekaligus melelahkan. Orang tua sudah merasa satu kosan cocok, dengan kamar yang rapi dan keamanan cukup. Namun Nia menggeleng. “Rasanya nggak sreg,” katanya singkat. Kami pun melanjutkan pencarian, keluar-masuk gang, hingga akhirnya menemukan kos khusus perempuan yang terasa pas. Di situlah akhirnya Nia akan tinggal.

Setelah proses administrasi selesai, kami kembali ke Jakarta, meninggalkan Nia dan ibu yang masih tinggal beberapa hari untuk beradaptasi. Waktu berjalan cepat, ternyata ibu sudah hampir 20 hari menemani. Hari kepulangan ibu menjadi titik berat.

Di balik senyum dan pelukan, ada rasa khawatir yang sulit disembunyikan. Benar saja, malam pertama setelah ibu pulang, telepon rumah berdering. Suara Nia terdengar lirih, penuh isak tangis. Ia mengaku kesepian, merasa asing, bahkan ingin pulang.

Fenomena itu dikenal sebagai homesick rindu rumah yang kerap melanda anak rantau di hari-hari pertama. Hampir setiap malam, telepon yang sama berbunyi. Tangisan itu bukan hanya soal kangen keluarga, tapi juga rasa takut menghadapi dunia baru sendirian.

Cara Nia Bertahan

Hari-hari awal itu penuh drama. Tangis menjadi rutinitas, kadang diiringi keluhan tentang kosan yang sunyi atau makanan yang tak seenak masakan rumah. Namun, waktu perlahan mengajarkan sesuatu.

Nia mulai mengisi waktunya dengan hal-hal baru. Ia belajar ke warung dekat kos untuk membeli makanan, mencoba mencuci pakaian sendiri, hingga mengatur kamar sesuai keinginannya. Aktivitas kecil itu memberi rasa kontrol, sesuatu yang membuatnya sedikit lebih nyaman.

“Kalau nangis terus, kapan bisa maju?” ujar ibu suatu kali lewat telepon. Kata-kata sederhana itu menjadi pengingat. Nia pun mulai berusaha menahan tangis, menggantinya dengan cerita tentang kelas, teman baru, atau pengalaman berangkat kuliah naik transportasi umum di Semarang.

Memasuki minggu ketiga, perubahan mulai terlihat. Nia tidak lagi menelpon sambil menangis, melainkan bercerita panjang tentang dosen yang unik, teman sekelas yang lucu, hingga kegiatan organisasi yang ia coba ikuti.

Kampus menjadi titik balik. Dari sana, ia menemukan lingkaran pertemanan yang membuatnya merasa tidak sendirian. Rutinitas kuliah, tugas, dan interaksi baru mengisi hari-harinya. Kosan yang dulu terasa asing kini menjadi tempat pulang yang cukup nyaman setelah seharian beraktivitas.

Homesick memang masih ada, tapi perlahan mereda. Kini, panggilan telepon ke rumah lebih banyak diisi dengan tawa, cerita seru, bahkan video call untuk menunjukkan kamar kos yang sudah ia tata sendiri.

Bagi Nia, Semarang bukan hanya kota tempatnya kuliah. Kota ini juga menjadi sekolah kehidupan. Ia belajar bagaimana menyeberang jalan yang ramai, mencari tempat makan hemat tapi enak, hingga mengatur keuangan dari uang bulanan.

Ia juga mulai mengenal sudut-sudut kota: Simpang Lima yang selalu ramai, Tugu Muda yang ikonik, hingga warung kaki lima yang menjual makanan khas. Semua pengalaman itu perlahan membentuknya menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Kini, Nia tidak lagi gadis yang menangis setiap malam. Ia sudah bisa bangun pagi sendiri, pergi ke kelas, berinteraksi dengan teman-temannya, lalu kembali ke kos dengan rasa puas. Proses itu memang tidak mudah, tapi justru di situlah makna merantau.

Dari tangis rindu rumah, lahirlah pelajaran tentang kemandirian. Dari rasa asing, tercipta keberanian untuk beradaptasi. Dan dari Semarang, Nia mulai belajar arti sebenarnya dari menjadi dewasa.

Pengalaman pertama ngekost bagi Nia adalah perjalanan emosional: dari rindu rumah, tangisan, hingga kemandirian. Semarang menjadi saksi transisi besar itu. Bahwa merantau tidak hanya soal kuliah, tapi juga soal belajar hidup.

Kini, saat kami mendengar ceritanya lewat telepon, tidak lagi suara tangis yang terdengar, melainkan semangat baru dari seorang anak rantau yang mulai menemukan jalannya sendiri.

Comments

Post a Comment