Naskah Yang Tak Pernah Sampai
| Foto : Raissa |
“Mau nunggu apa lagi, Ran?”
Kalimat itu dilemparkan Dinda sambil setengah bercanda, setengah kesal. Rani hanya mengangkat bahu dan tersenyum simpul. Sore itu, ia duduk di depan laptopnya dengan tampilan dokumen yang terbuka, kosong. Naskah UAS feature yang harus dikirim ke media belum juga dimulai, padahal tenggat waktu tinggal tiga hari lagi.
Rani bukan mahasiswa yang malas. Nilainya cukup baik, ia aktif di organisasi, dan dikenal rajin oleh dosen. Tapi ada satu kebiasaan yang menjadi kebiasaan dalam hidupnya, menunda. Ia selalu percaya bahwa waktu masih panjang, bahwa nanti pasti bisa, bahwa ide besar akan datang di saat terakhir. Sayangnya, nanti tidak selalu datang tepat waktu.
Tiga hari berlalu. Rani akhirnya menyelesaikan naskahnya. Temanya menarik, cerita tentang mahasiswa rantau yang bangkit dari keterpurukan. Ia bahkan sudah memilih media tempat ia ingin mengirimkan tulisannya. Semua sudah siap kecuali satu hal, pengiriman naskah.
Malam itu, tepat dua menit sebelum tenggat waktu, Rani membuka laptopnya dan siap mengirim naskah. Tapi entah karena nasib buruk atau kebiasaannya menunda, jaringan Wi-Fi di rumahnya tiba-tiba mati. Ia panik, mencoba tethering dari ponsel tapi sinyal lemah. Hingga pukul 00.00 lewat, naskah tak kunjung terkirim.
Rani hanya dapat menatap layar dan berkata lirih, “Harusnya aku kirim tiga hari lalu.”
Pagi hari, Rani datang ke kampus dengan raut penuh penyesalan. Ia bercerita pada Dinda, sahabatnya, tentang apa yang terjadi malam sebelumnya. Dinda hanya mengangguk dan berkata kalimat yang masih terngiang di kepala Rani hingga hari ini, “Kadang kita bukan tidak bisa, tapi karena terlalu sering mengulur waktu.”
Kalimat itu sederhana, tapi mengena. Rani sadar, kegagalannya bukan karena kurang cerdas, kurang bakat, atau kurang informasi. Ia gagal karena terlalu percaya pada waktu, dan meremehkan kecepatan bertindak.
Rani mengaku, ini bukan pertama kalinya ia menunda sesuatu hingga berakhir seperti ini. “Tugas-tugas sebelumnya juga sering aku kerjain mepet tenggat waktu. Kadang berhasil, kadang zonk. Tapi kali ini zonknya parah,” ucapnya, berusaha tertawa, meski terlihat menyesal.
Setelah insiden itu, Rani mencoba mengubah kebiasaan. Ia mulai menulis daftar prioritas harian, mematikan notifikasi aplikasi, dan melatih diri untuk menyelesaikan sesuatu lebih awal. Ia juga mencoba jujur pada dirinya sendiri. Bukan mencari alasan, tapi mengakui bahwa kesalahan datang dari kelalaian sendiri. Dan dari pengakuan itulah perubahan bisa dimulai.
“Aku nggak mau kejadian itu terulang. Rasanya nyesek banget. Naskahnya bagus, udah ditulis pakai hati, tapi nggak sempat dilihat siapa-siapa karena aku telat kirim,” katanya sambil tersenyum getir.
Dalam dunia akademik, kegagalan sering dimaknai sebagai nilai rendah, tugas tak selesai, atau IPK menurun, namun dalam hidup, ia bisa berupa kesempatan yang hilang, peluang yang terlewat, atau pesan yang tak tersampaikan. Meski begitu, kegagalan tetap membawa pelajaran penting tentang tanggung jawab, disiplin, dan menghargai waktu, bahwa keputusan kecil seperti menunda kirim email pun dapat berdampak besar pada hasil akhir.
Sekarang, Rani sedang menulis ulang naskah barunya. Ia memilih topik yang lebih personal, pengalamannya gagal karena menunda. Ia ingin membagikannya, bukan untuk mengeluh, tapi untuk menjadi pengingat bagi yang lain.
“Aku sadar, aku nggak sendiri. Banyak kok yang kayak aku. Tapi nggak semua orang mau cerita,”ujarnya.
Rani berharap pengalamannya bisa menjadi pengingat bagi mahasiswa lain bahwa waktu bukan soal banyak atau sedikit, tapi soal bagaimana kita menggunakannya. Naskah yang tak sempat terkirim itu justru memberinya pelajaran berharga bahwa kegagalan tak pernah berdusta, ia membuka kelemahan dengan jujur, meski terasa menyakitkan. Dan justru dari kegagalan itulah, ia mendapatkan pelajaran yang membekas lebih lama dibanding pujian dari keberhasilan.
Sejak saat itu, setiap kali membuka laptop, Rani selalu mengingatkan dirinya lewat secarik catatan kecil di sisi layar.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Naskah yang Tak Pernah Sampai - Strategi, kemudian diunggah kembali di blog ini untuk tujuan arsip dan berbagi.
Comments
Post a Comment