PestaPora 2025 Musik Tetap Mengalun, Meski Puluhan Band Memilih Mundur
| Pestapora (6/9/2025) |
Widia Words - Jakarta, Sabtu sore (6/9/2025), langit di atas JIExpo Kemayoran mendung tipis. Ratusan anak muda dengan pakaian kasual dan wajah antusias antre di depan pintu masuk PestaPora 2025. Suara riuh mereka berpadu dengan dentuman musik dari panggung utama. Namun, di balik semarak itu, sebuah isu besar tengah bergema: puluhan band mendadak mundur dari panggung karena kontroversi sponsor Freeport.
“Awalnya saya datang buat nonton .Feast sama Hindia, tapi pas lihat line-up baru, kok kosong?” kata Ayu (21), mahasiswi yang datang bersama dua temannya. Ia mengaku kecewa, meski tetap memilih masuk arena festival.
Panggung yang Berubah Wajah
Hari pertama, festival masih berjalan normal. Namun, pada hari kedua, suasana sedikit berbeda. Nama-nama band yang seharusnya tampil mendadak hilang dari jadwal. Dari Banda Neira, Hindia, hingga Rebellion Rose, semuanya menyatakan mundur lewat akun media sosial masing-masing.
Alasannya sama, penolakan terhadap PT Freeport Indonesia sebagai sponsor. “Kami tidak bisa berdiri di panggung yang didukung perusahaan dengan rekam jejak problem lingkungan dan HAM,” tulis pernyataan salah satu band.
Penonton Terbelah
Di tengah kerumunan, beberapa penonton tampak kecewa. “Kita beli tiket karena line-up awal, jadi pas banyak yang batal tampil, rasanya kayak ditinggalin,” ujar Rifki (23), seorang pekerja kreatif.
Namun, ada pula yang justru bangga dengan sikap para musisi. “Salut sama mereka. Itu bukti musik bukan cuma hiburan, tapi juga sikap,” kata Dinda (20), yang datang mengenakan kaus hitam bertuliskan Music with Integrity.
Suara Panitia dan Sikap Musisi
PestaPora akhirnya mengumumkan bahwa mulai 6 September, mereka sudah tidak lagi berafiliasi dengan Freeport. Keputusan itu diambil setelah gelombang kritik muncul di media sosial dengan tagar #BoikotPestaPora.
Meski begitu, sebagian musisi tetap bertahan dengan keputusannya untuk mundur. “Ini soal konsistensi. Begitu tahu sponsor siapa, kami tidak bisa pura-pura tidak tahu,” ujar Ananda Badudu dari Banda Neira dalam keterangannya.
Musik dan Nilai di Persimpangan
Malam itu, panggung PestaPora tetap bergetar oleh suara musik. Band-band yang masih tampil berusaha memberi penampilan terbaik, menutupi lubang kosong akibat mundurnya rekan-rekan mereka. Penonton yang bertahan tetap bergoyang, meski dengan rasa campur aduk.
Festival musik, yang sejatinya menjadi ruang perayaan dan persatuan, kini berubah jadi ruang refleksi. Tentang bagaimana pilihan sponsor bisa mengguncang kepercayaan, tentang bagaimana musisi menegaskan sikap, dan tentang bagaimana penonton ikut merasakan dampaknya.
PestaPora 2025 meninggalkan catatan penting yaitu, musik bukan hanya soal hiburan, tapi juga ruang etika. Puluhan band memilih mundur, penonton kecewa sekaligus bangga, dan panitia akhirnya melepas sponsor kontroversial.
Pertanyaannya, apakah di festival-festival berikutnya penyelenggara akan lebih selektif dalam memilih mitra? Atau justru kontroversi seperti ini akan kembali terulang di panggung lain?
PESPOR SERU BANGET
ReplyDelete