Rugi Di Usaha, Untung Di Pelajaran Hidup
| Foto hanya ilustrasi |
“Harusnya aku bisa untung jutaan,” kataku waktu itu penuh semangat, penuh rencana, dan penuh rasa percaya diri.
Saat itu aku baru duduk di semester tiga. Aku memulai usaha kecil-kecilan jualan makanan ringan seperti brownise dan cookies di online dan kampus. Awalnya sederhana, untuk menambah uang jajan, belajar bisnis sambil kuliah, menyalurkan hobby, dan siapa tahu bisa buka cabang kecil-kecilan suatu hari nanti.
Niatku murni. Aku ingin mandiri. Tidak ingin selalu bergantung pada kiriman orang tua. Tapi ternyata, niat saja tidak cukup.
Dari awal, aku sudah salah perhitungan. Aku beli bahan baku dalam jumlah besar, dengan asumsi semua pasti laku. Aku tidak riset harga pasar, tidak hitung biaya produksi secara rinci. Pokoknya, yang penting jalan dulu.
Aku jual barang terlalu murah agar cepat laku, tanpa sadar kalau margin untungnya nyaris nol. Bahkan beberapa kali aku justru rugi karena tidak memperhitungkan ongkos bungkus, transportasi, dan potongan dari aplikasi pesan antar.
“Aku kira jualan itu asal rame, pasti untung,” pikirku dulu. Kenyataannya, pembeli banyak, tapi uang tidak pernah benar-benar terkumpul.
Aku pikir bisa membagi waktu. Siang kuliah, malam produksi. Tapi realitanya tidak semudah omongan. Tugas kuliah menumpuk, stamina menurun, dan kadang aku tidur hanya tiga jam semalam.
Laba sedikit demi sedikit terkikis karena aku sering mengorbankan kualitas. Promosi jalan, tapi pengiriman telat. Produksi banyak, tapi pasar tidak disurvei. Saat kerugian mulai muncul, aku justru menyangkalnya.
“Aku cuma butuh waktu,” kataku dulu. Tapi waktu tak memberi ruang bagi yang tidak mau jujur pada keadaan.
Suatu malam, aku hitung ulang semua biaya produksi, pengeluaran, dan piutang yang belum kembali. Mataku panas. Bukan hanya karena uang habis, tapi karena aku merasa gagal.
“Bukannya untung, aku malah tekor,” ucapku ke temanku. Ia hanya tertawa kecil dan berkata,
“Setidaknya kamu pernah nyoba, itung-itung menambah pengalaman”
Tapi malam itu aku tahu, aku harus berhenti. Kadang, mundur bukan berarti menyerah. Tapi tahu kapan harus belajar kembali. Bukan karena tidak kuat, tapi karena aku perlu belajar dan riset terlebih dahulu sebelum melangkah terlalu jauh.
Aku menutup usaha itu dengan berat hati. Semua perlengkapan dijual setengah harga. Akun media sosial bisnis aku arsipkan. Aku kembali fokus ke kuliah, tapi ada rasa malu dan kecewa yang masih menempel.
Namun setelah beberapa bulan, aku mulai sadar gagal dalam duni bisnis bukan berarti gagal sebagai pribadi. Aku belajar lebih banyak dari kerugian itu dibanding materi kelas manapun. Aku belajar mengelola waktu, mengelola emosi, dan menerima bahwa idealisme saja tidak cukup. Perlu strategi, pengalaman, dan yang paling penting kesiapan mental.
Kini aku tidak malu bercerita bahwa bisnisku pernah bangkrut. Karena dari sana, aku justru jadi lebih dewasa.
Bagi aku, ini bukan hanya tentang rugi uang. Tapi tentang kehilangan kendali atas ego sendiri. Tentang belajar untuk tidak asal percaya diri tanpa hitung-hitungan. Dan belajar untuk menerima bahwa semua butuh proses, termasuk menjadi pengusaha muda. Karena dalam dunia usaha, untung bukan hanya soal uang tapi tentang siapa yang berani jujur pada dirinya sendiri.
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Rugi di Usaha, Untung di Pelajaran Hidup | NNC Netralnews, kemudian diunggah kembali di blog ini untuk tujuan arsip dan berbagi.
Comments
Post a Comment